Wanita “Pembunuh” Jepang

Ksatria wanita dari Jepang yang akan kita bahas kali ini adalah ksatria samurai wanita yang disebut  onna-bugeisha (女武芸者). Onna-bugeisha adalah petarung wanita Jepang yang berasal dari keluarga terpandang dan terhormat. Wanita yang dimaksud di sini bisa seorang istri, janda, atau anak perempuan sebuah keluarga kaya yang merasa terpanggil jiwanya untuk turun ke medan perang yang biasanya dilakukan oleh para ksatria samurai pria. Para wanita ini telah mendapat pelatihan penggunaan senjata dan bela diri. Pelatihan tersebut sebenarnya merupakan pelatihan yang diberikan kepada semua wanita yang berasal dari golongan atas yaitu golongan bushi atau ksatria samurai, agar mereka bisa melindungi diri dan keluarganya ketika masa perang ditinggalkan oleh suami atau ayah mereka. Onna-bugeisha memiliki peranan yang penting dalam sejarah Jepang. Tokoh-tokoh onna-bugeisha yang terkenal dan mempunyai peran penting dalam sejarah Jepang tersebut misalnya Empress Jingu, Tomoe Gozen, Nakano Takeko, dan Hōjō Masako.

Jauh sebelum para ksatria samurai terkenal dan memiliki kekuasaan, para petarung pria di Jepang dilatih menggunakan pedang dan tombak, sedangkan bagi para wanita dilatih menggunakan naginata, kaiken, dan seni tantojutsu di dalam medan perang. Pelatihan kepada kaum wnaita tersebut dilakukan karena saat itu terjadi kekurangan jumlah pria untuk ikut berperang. Ketika itu, seorang wanita bernama Empress Jingu memanfaatkan keahliannya untuk melakukan perubahan di bidang sosial ekonomi. Tidak hanya itu, wanita yang merupakan istri dari raja Chuai ini memimpin pasukan untuk mengadakan serangan ke Korea karena sang suami gugur di medan perang. Empress Jingu adalah wanita pertama yang gambar wajahnya tercetak di atas uang kertas Jepang.

Onna-bugeisha lain yang terkenal adalah Tomoe Gozen, istri dari Minamoto Yoshinaka. Ia membantu suaminya melawan sepupunya sendiri, Minamoto no Yoritomo, dalam perang Awazu pada tahun 1184. Dalam kisah Heike Monogatari, ia digambarkan sebagai sosok wanita yang sangat cantik dengan kulit putih dan rambut panjang yang ahli dalam memanah dan menggunakan pedang. Kisahnya yang turun langsung ke medan peran ini kemudian menginspirasi cerita rakyat Jepang yang berjudul Tomoe no Monogatari dan banyak lukisan Ukiyo.

Setelah Tomoe Gozen, onna-bugeisha yang terkenal adalah Hōjō Masako yang merupakan istri dari Minamoto no Yoritomo, penguasa Jepang dari kaum samurai pada era Kamakura (1185-1333). Setelah suaminya meninggal, ia menjadi wanita pertama yang duduk memegang kekuasaan di bidang politik. ia lalu memutuskan untuk menjadi “nun budha”  dan melimpahkan kekuasaannya kepada sang anak, Minamoto no Yoriie. Berkat Hōjō Masako, hukum di Jepang pada masa itu mulai memperbolehkan wanita berperan dalam bidang politik dan mendapatkan persamaan derajat dengan para kaum lelaki, tidak hanya dianggap sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga, namun juga dapat turun langsung ke medan perang untuk melindungi keluarga mereka.

Tokoh terakhir yang terkenal dari onna-bugeisha adalah Nakano Takeko yang turun langsung ke medan perang Aizu, memimpin pasukan wanita yang hanya berjumlah 20 orang  untuk membela pasukan dari klan Aizu yang berjumlah 3000 orang ketika melawan pasukan kerajaan Ogaki yang berjumlah 20.000 orang. Untuk menghormati keberanian dari Nakano Takeko ini, di propinsi Fukushima tepatnya di kuil Hokai , Aizu Bangemachi, dibangun sebuah monumen untuk mengenang keberaniannya.

Brikut ini adalah gambar-gambar ilustrasi para ksatria samurai wanita dan video tentang teksik-teknik penggunaan senjata yang dikuasai oleh para ksatria wanita tersebut,

Sumber: http://www.military-history.org

  1. Ravenitsu Kouzimaru
    5 tahun yang lalu

    waadduuuhh,,,,, cewe cakep” koq jadi pembunuh….,

    Reply
    • Lyn kuromuno
      4 tahun yang lalu

      Klo kepaksa gk apa” kali emang cewek harus d bawah laki” terus gk mungkin

      Reply
  2. Irfan
    5 tahun yang lalu

    wew,,, keren oi

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya