Tindakan Tegas Pemerintah Jepang Terhadap Yakuza Dengan Hukuman Mati

Jepang mengeksekusi mati dua terpidana yang divonis bersalah atas kasus pembunuhan. Seorang pemimpin geng Yakuza dan seorang mantan sopir taksi yang membunuh lebih dari orang, dihukum gantung. Sejauh ini, total 11 eksekusi mati telah dilakukan pada masa pemerintahan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe sejak tahun 2012 lalu. 

Eksekusi mati ini terjadi di tengah spekulasi bahwa PM Abe akan menunjuk Menteri Kehakiman yang baru, yang tentunya diperlukan izinnya dalam setiap pelaksanaan eksekusi mati di Jepang. Pekan depan, diperkirakan PM Abe akan merombak kabinet pemerintahnya. 

“Saya memerintahkan eksekusi setelah mempertimbangkan dengan bijak,” terang Menteri Kehakiman Jepang, Sadakazu Tanigaki kepada wartawan setempat. Menurut keterangan Kementerian Kehakiman setempat, kedua terpidana yang dihukum gantung ini sama-sama merupakan pembunuh banyak orang. 

Terpidana pertama, yakni Tsutomu Takamizawa (59), seorang pemimpin geng dalam jaringan Yakuza terbesar di Jepang, Yamaguchi-gumi. Takamizawa divonis bersalah menembak mati 3 orang antara tahun 2001-2005 lalu.

Terpidana kedua, Mitsuhiro Kobayashi (56) yang seorang mantan sopir taksi, divonis bersalah atas pembunuhan 5 orang dan melukai 4 orang lainnya pada tahun 2001 lalu. Kobayashi membakar kantor pinjaman lunak setempat di Aomori, Jepang bagian utara.

Selain Amerika Serikat, Jepang merupakan satu-satunya negara maju dan demokratis di dunia yang menerapkan hukuman mati. Survei menunjukkan bahwa penerapan hukuman mati mendapat dukungan publik Jepang, meskipun banyak protes dari kelompok HAM internasional serta dari pemerintah negara-negara Eropa.

Sepanjang tahun 2011, otoritas Jepang sama sekali tidak melakukan eksekusi mati. Namun kemudian mulai Maret 2012, pelaksanaan eksekusi mati kembali dilakukan terhadap tiga terpidana pembunuhan.

Kelompok HAM internasional menyebut, sistem hukuman mati di Jepang sangat kejam karena membiarkan terpidana mati untuk menunggu pelaksanaan eksekusi mati mereka selama bertahun-tahun di dalam penjara. Para terpidana mati juga baru diberitahu soal jadwal eksekusi mati selang beberapa jam sebelumnya.

Kini, ada 125 terpidana mati di Jepang yang tengah menunggu eksekusi mati mereka.

 

Sumber: detik.com

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya