Survei: 1 dari 3 Wanita Jepang Enggan Bekerja Seusai Menikah

Di Jepang, di mana laki-laki masih mendominasi dunia kerja, pasar tenaga kerja yang terus menyusut dan turunnya angka kelahiran, menempatkan tekanan ekstra pada keuangan negara. Menyikapi ini, Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji memperluas peluang usaha bagi perempuan. Awal pekan ini menteri luar negeri Jepang di hadapan forum PBB mengatakan bahwa pada tahun 2020, 30 persen dari posisi senior pemerintah akan dipegang oleh perempuan. Saat ini hanya dua dari 19 anggota kabinet adalah perempuan. Namun sebuah survei menunjukkan satu dari tiga wanita muda Jepang ingin menikah dan menjadi ibu rumah tangga saat cukup usia. Namun, hanya satu dari lima pria mengaku ingin calon istri tinggal di rumah sepanjang hari.

243924a9218b2066a0

Survei ini dilakukan melalui internet oleh lembaga swasta yang ditugasi kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang. Survei ini melibatkan 3.133 pria dan wanita termasuk mereka yang sudah menikah. Sekitar 34,2 persen perempuan lajang berusia 15-39 tahun ingin menjadi ibu rumah tangga. Sementara itu, sebanyak 19,3 persen laki-laki lajang pada rentang usia yang serupa menunjukan pandangan yang positif pada hal tersebut. Fakta itu terungkap dari data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Respon perempuan yang tidak ingin menjadi ibu rumah tangga penuh waktu berjumlah 38,5 persen. Sebaliknya, sekitar 30,2 persen pria lajang menunjukkan pandangan negatif tentang masa depan pasangan mereka yang ingin total mengurus rumah tangga.

Kaum perempuan juga ditanyakan tentang gaji bulanan yang didapatkan pasangan mereka. Hasilnya menunjukkan sebanyak 40,8 persen mengatakan 200-300 ribu yen, lalu diikuti dengan mereka yang mengatakan 300-400 ribu yen. Sekitar 4,2 persen mengatakan “pendapatan tidak penting”.

Sumber : whoa-im-in-japan.com

 

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya