Remaja Jepang Menunjukkan Rasa Sayang dengan Menjilati Bola Mata

Praktik menjilati bola mata ini disebut ‘oculolinctus’ atau ‘worm’ dan ternyata sudah ada sejak tahun 2000-an. Tren ini kembali menjadi sorotan karena beberapa siswa di Jepang yang mempraktikkannya mengalami penyakit mata konjungtivitis.

Oculolinctus-Eyeball-Licking-trend-in-Japan-1

Bahkan dalam sebuah kelas di mana para siswanya baru berumur 12 tahun, sepertiga di antaranya mengaku sudah pernah bertindak sebagai penjilat ataupun yang dijilati bola matanya. Para guru baru menyadari setelah sebagian siswa datang ke sekolah mengenakan penutup mata.

Tren ini menyebar lewat dunia maya, terutama setelah beberapa video oculolinctus menyebar via YouTube. Ada ratusan video serupa yang beredar di sana. Salah seorang yang mencobanya adalah Elektrika Energias, mahasiswi ilmu lingkungan di AS berumur 29 tahun asal Virgin Islands.

“Pacar saya mulai menjilati bola mata saya setahun lalu dan saya menyukainya. Sekarang kita tidak bersama lagi, tapi saya masih meminta orang untuk menjilati bola mata saya. Saya menyukainya karena seperti mengisap jari kaki, rasanya geli,” katanya seperti dilansir Huffington Post.

Oculolinctus-Eyeball-Licking-trend-in-Japan-5

Dari segi kesehatan, tindakan ini jelas berisiko. Seorang dokter mata di San Diego, Dr David Granet, menjelaskan bahwa menjilati mata dapat menyebabkan pengikisan kornea. Dan jika sang penjilat belum membersihkan mulut, produk asam dari minuman atau makanan berumbu akan masuk ke dalam mata.

Senada dengan pendapat tersebut, Dr David Najafi yang merupakan dokter mata di La Mesa, California mengatakan bahwa praktik ini dapat menyebarkan herpes lewat mata. Apalagi kornea adalah bagian mata yang sangat sensitif dan rentan terluka.

Bahaya lain yang bisa timbul dari oculolinctus adalah konjungtivitis dan pembengkakan. Bahkan menurut Dr Phillip Rizzuto, juru bicara American Academy of Ophthalmology, menjilati bola mata dapat menyebabkan kebutaan.

“Bakteri dalam mulut tidak seperti bakteri dalam bola mata. Itulah sebabnya kita tidak lagi merekomendasikan orang menjilat lensa kontak,” kata Rizzuto.

Bagi Energia, ternyata risiko yang harus ditanggung tak hanya itu saja. Karena menjalani tren yang ganjil itu, korneanya sempat mengalami borok sehingga dia harus dirawat hampir sebulan di rumah sakit. Kini dia sudah baik-baik saja dan mengaku belajar dari pengalamannya.

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya