Penyebab Hikikomori dan Cara Mengatasinya

Buat kalian yang masih belum jelas apa itu hikikomori, J Cul pernah membahasanya secara lengkap di artikel “Hikikomori” Penyakit Remaja Jepang. Ada banyak alasan yang jadi latar belakang mengapa seseorang menjadi Hikikomori. Bagi Hide seorang remaja Jepang penderita Hikikomori, masalah muncul saat ia tak sanggup lagi ke sekolah.  “Aku mulai menyalahkan diri sendiri. Orangtuaku juga menyalahkanku karena tak pergi ke sekolah. Kian lama tekanan terasa makin besar,” kata dia. “Lalu, aku mulai takut keluar rumah dan takut bertemu orang lain. Hingga akhirnya aku tak mampu beranjak dari rumah.

 

c6eab7bca50cf2ac8c04c108a357b6c9

Secara bertahap, Hide memutuskan komunikasi dengan orang lain, pertama dengan teman-temannya, lalu orang tuanya. Sehari-hari, ia hanya tidur, dan bila terjaga, ia pasti sedang menonton televisi. “Aku memiliki semua emosi negatif,” kata pria itu. “Keinginan untuk keluar rumah, kemarahan pada masyarakat dan orangtua, sedih karena berada dalam kondisi ini, takut akan apa yang akan terjadi di masa depan, dan iri dengan orang-orang yang menjalani kehidupan normal — semua campur aduk”.

 

Hikikomori_by_Usotsuki

Tamaki Saito, seorang psikiater ternama mengaku, pada tahun 1990-an, ketika fenomena ini belum dikenal luas, ia dibanjiri permintaan tolong para orangtua yang ingin membantu anak-anak mereka yang mengasingkan diri. Saat itu, kebanyakan pelakunya adalah anak lelaki, berusia rata-rata 15 tahun, dari keluarga kelas menengah, menarik diri dalam jangka waktu bulanan sampai tahunan. Pemicunya ada beragam. Bisa karena nilai sekolah yang jelek atau patah hati. Atau tak kuat dan tak mampu menanggung harapan serta tuntutan besar orang tua dan masyarakat.  Namun, penarikan diri berakar dari trauma. Dan kekuatan sosial bisa membuat mereka makin lama berada di dalam kamar. “Pikiran mereka tersiksa,” kata dia. “Mereka ingin keluar, kembali ke dunia. Ingin berteman atau memiliki kekasih, tapi mereka tak mampu,” kata Tamaki Sato.

 

9fc16d8e5f40b1b71de96b9e28c5e7ab

Orang tua pun ikut menderita menghadapi kondisi itu. Salah satunya Yoshiko. Putranya secara bertahap menarik diri dari masyarakat saat berusia 22 tahun. Awalnya, ia masih suka berbelanja. Tapi semenjak itu bisa dilakukan online lewat internet, ia tak lagi pernah keluar rumah. Kini, putranya itu berusia 50 tahun. Sudah paro baya. “Kupikir putraku kehilangan daya, bahkan untuk menginginkan sesuatu, untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan,” kata perempuan sepuh itu. “Mungkin dulu ia punya sesuatu yang ingin dilakukan, tapi kupikir, aku yang telah menghancurkannya.”

NEET

 

Dan ternyata, fenomena hikikomori ini tak hanya terjadi di Jepang. Sejumlah menceritakan pengalamannya, menarik diri dari dunia. “Aku menarik diri dari masyarakat sejak 12 tahun lalu. Hingga kini belum pulih, aku masih menghabiskan waktuku sendiri. Aku tak bekerja, tidak ke luar rumah, dan bertahan hidup dari jaminan sosial,” kata Nicholas dari Massachusetts, AS. Dia mengatakan, masalah utama yang dihadapi orang-orang sepertinya adalah ketakutan luar biasa menghadapi kegagalan — meski itu belum terjadi.

 

eugenia_lim_sakoku300dpi1

Sementara, Darren, asal London mengaku tak punya harga diri, kepercayaan diri, dan tak punya teman. Masalah yang menderanya sejak sekolah dasar. Meski tetap bekerja demi bertahan hidup, Daren menghabiskan waktu luangnya di kamar. Memendam iri pada orang lain, yang menurutnya, menjalani hidup dengan mudah. Di usia 43 tahun ini ia masih tinggal bersama orangtuanya. “Jika mereka memaksaku pindah, satu-satunya cara adalah menempatkan jasadku di kantung mayat.” Bahkan seseorang pensiunan dosen astrofisika pun merasakan hal yang sama. Inisialnya P, asal California. Ia mengaku tak bisa bergaul dan tak punya teman. Di masa mudanya, ia melarikan diri dengan belajar sains dan matematika. Dan kini, “Aku merasa, dalam jangka panjang, aku akan hidup dan mati di jalanan,” kata dia.

 

hikikomori1

 

Sementara, Watila, dari Tamil Nadu, India mengaku, penarikan diri awalnya menjadi jalan keluar baginya, tapi membuat tubuhnya susut hingga 9 kilo. Ia tahu benar, jika diteruskan, pasti dia segera mati. Watila pun mulai membaca buku-buku yang membuatnya tertawa, main Facebook, game, dan mulai membuka diri dan mengakui kondisinya pada sejumlah teman. Bantuan dan doa pun berdatangan. “Namun, langkah pertama, yang terpenting bagiku saat itu, adalah bertekad dan mengatakan, ‘aku ingin keluar dari kegelapan ini’,” kata dia.

 

 

 

  1. ken Z
    3 tahun yang lalu

    aku juga sepertinya hikikomori, sejak umur 11 thn aku mulai mengurung diri dan sampe sekarang umurku 18 thn, aku sangat bingung dengan diriku sendiri, aku tidak tau harus berbuat apa

    Reply
    • Kartika Asahi
      2 tahun yang lalu

      kalau boleh tahu kenapa kamu mengurung diri? apakah di bully sama teman? maaf bertanya. soalnx aku juga hampir menjadi hikikomori. ^_^

      Reply
  2. Muhammad riyanto
    2 tahun yang lalu

    Aku mengalami hikikomori sejak umur 4 tahun, kelas 1 sd, saat itu saya menghajar teman saya yang saya anggap keterlaluan,saat itu ibunya datang dengan membawa golok, tidak ada rasa takut dalam diri saya yang ada hanya perasaan ingin membunuhnya, saya termasuk orang yang ceria hiperaktif tapi sangat membenci keramaian, makannya sampai sekarang walaupun sudah berumur 20 tahun belum bisa mengendalikan emosi saya, saya sangat suka menyendiri daripada, bergaul dengan banyak orang, daripada berteman dengan orang sok yang bisa memancing emosi saya, terkadang ada rasa ingin menghajar mereka, tapi saya lampiaskan dengan menghajar pohon tembok dll, sampai puas setelah itu tertawa seperti psikopat

    Reply
    • Kartika Asahi
      2 tahun yang lalu

      kalau itu belum bisa dikatakan hikikomori. itu bisa dibilang gangguan emosi. Hikikomori itu mengurung diri di kamar dalam jangka waktu minimal 6 bulan. mereka sangat tergantung sama orang lain. kamu masih bisa ketemu orang kan? masih keluar rumahkan? kalau iya, berati kamu belum kategori Hikikomori. Hikikomori itu tahap yang paling parah. bahkan ahli psikologipun mengatakan akan sulit menyembuhkan. karena ketakutan yang luar biasa dari individu untuk keluar kamar atau bertemu orang lain… ^_^

      Reply
  3. William Gunawan
    2 tahun yang lalu

    Semua orang yg Hikikomori itu BAKA ,knapa semua hikikomori ngak bisa melihat kenyataan yg ada (BAKA BAKA BAKA BAKA)
    BEBASKAN LAH DIRIMU HIKIKOMORI WKWKWKWKWK

    Reply
    • Anonymous
      12 bulan yang lalu

      gak semua hikikomori juga jadi hikikomori bukan karena suka kan. Walaupun mereka bisa ngeliat kenyataan belum tentu mereka punya keberanian untuk berubah.

      Reply
  4. Ratna
    2 tahun yang lalu

    Sya jga bgtu, kira2 sejak masuk sd smpai usia 27 th sya msih tetap menyendiri dikamar.
    Q merasa iri dg kesuksesan teman2 di luar sana.

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya