Pengakuan Seorang Seiyuu yang Berhenti karena Pelecehan Seksual

Menjadi seorang seiyuu atau pengisi suara dalam anime mungkkin menjadi pekerjaan idaman beberapa di antara J-Culers. Tapi, kehidupan seorang seiyuu tidak selalu lancar dan menggembirakan. Selain bayaran yang rendah, seiyuu juga kadang harus memerankan sesuatu yang tidak mereka sukai, seperti karakter dalam adult anime atau anime dewasa.

Inilah beberapa kutipan wawancara yang dilakukan Business Journal dengan seiyuu bernama Ms. U (nama asli disensor):

Saya sangat suka dengan anime hingga ingin menjadi pengisi suara. Saya mengikuti pendidikan pengisi suara dan direkrut sebuah perusahaan, tapi saya hanya mendapatkan peran walla [pengisi suara keramaian di latar belakang]. Bayarannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, jadi saya mengambil kerja paruh waktu.

Peran non-walla pertama yang saya dapatkan adalah dalam “anime dewasa”. Sudah biasa untuk seiyuu yang baru bekerja di industri ini bekerja mengisi suara dalam anime dewasa, bahkan seiyuu terkenal pun mulai dari bawah. Saya bekerja dengan nama samaran dan mendapatkan beberapa peran. Meski masih belum bisa mencukup kebutuhan sehari-hari, setidaknya saya senang mendapatkan bayaran yang lebih besar.

Suatu hari, seorang rekan kerja senior mengenalkan saya pada peran seorang penjahat dalam sebuah late night anime [anime yang tayang di malam hari]. “Akhirnya usaha saya membuahkan hasil,” begitu pikir saya. Tapi, selama masa pelatihan, pelatih saya mengatakan “Kamu sepertinya tidak bagus memerankan karakter wanita meski sudah berperan banyak dalam anime dewasa. Pasti kamu jarang melakukan hubungan seksual,” Saya mencoba tidak menghiraukan perkataannya, tapi di hadapan pelecehan seksual yang begitu jelas, saya sadar bahwa saya hanya mendapatkan peran ini karena dulu saya bekerja di anime dewasa. Sebuah pikiran lain terbersit dalam benak saya: “Saya ternyata harus bisa ‘menjual diri’ saya agar bisa naik daun di industri ini…”

Sepertinya terdengar seperti plot sebuah anime dewasa murahan, kan? Tidak, itu benaran terjadi pada saya. Mungkin karena saya dihubungkan dengan karakter-karakter yang pernah saya perankan dulu. Tentu, wanita sepertinya harus “menjual diri” agar bisa sukses di industri ini, tapi homoseksualitas juga sangat umum. Saya dengar Mr. M, yang sudah berumur lebih dari 60 tahun, sering berkencan dengan pria-pria muda di Shinjuku Ni-chome [kawasan kaum gay di Shinjuku].

Ms. U menolak tawaran kerja itu. Setelah penolakannya, banyak rumor tentang dirinya beredar, semuanya bernada negatif. “Ms. U menjual dirinya untuk mendapatkan peran” dan “Ms. U wanita murahan, dia mau tidur dengan siapa saja!” Akhirnya, karena tidak tahan dengan pelecehan seksual yang dia dapatkan, Ms. U keluar dari perusahaan dan dunia seiyuu.

Pengakuan Ms. U menunjukkan betapa gelapnya dunia seiyuu di Jepang. Karena tidak mudah mendapatkan pekerjaan, seiyuu kadang terpaksa mengambil peran dalam anime dewasa, terutama di awal karirnya. Hanya beberapa seiyuu yang meraih sukses setelah peran-peran awal ini. Tapi sialnya bagi sebagian seiyuu, awal karir ini sering mengundang pelecehan seksual. Karena penonton tidak pernah melihat kebanyakan seiyuu di layar, jadi penonton biasanya tidak tahu dan tidak peduli apa yang terjadi di balik layar.

Sumber: Business Journal (bahasa Jepang)

  1. ufa_393
    1 tahun yang lalu

    Kasihan Ms.U yang sabar yah… Ms.U gambatte 🙂

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya