Pemikiran Wanita Jepang Setelah Menikah

Jepang, seperti masyarakat pada umumnya, memiliki sikap dasar sendiri tentang pernikahan. Beberapa di antaranya mungkin bisa mengejutkan bagi pria asing yang menikah dengan seorang wanita Jepang.

Berikut ini adalah pemikiran wanita Jepang setelah menikah:

1. Istri lebih memilih jadi ibu rumah tangga

wanita_jepang

Selama beberapa dekade terakhir, di banyak negara Barat, sudah dianggap normal jika seorang wanita (istri) akan terus bekerja setelah menikah. Meskipun Jepang memberlakukan undang-undangan untuk kesetaraan gender pada kesempatan kerja sejak 1986, namun peran tradisional suami yang bekerja dan mencari nafkah, sedangkan istri bertugas di rumah untuk merawat suami dan anak masih belum lekang oleh waktu.

Pola pikir Jepang ini memang tidak mutlak berlaku, namun umum dilakukan oleh wanita-wanita Jepang.

Chisa ‘Girls Next Door’ yang memutuskan hengkang dari band yang membesarkan namanya sebab ingin berkonsentrasi mengurus suaminya yang seorang perenang profesional setelah menikah nanti. Fakta lainnya, meskipun lesu perekonomian Jepang terus berlanjut saat ini, jumlah perempuan yang lebih suka menjadi ibu rumah tangga dibandingkan bekerja masih tetap tinggi.

“Memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga itu sedikit aneh untukku,” ujar seorang wanita Polandia berusia 20 tahunan.

“Saya merasa kasihan pada mereka (wanita Jepang yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga),” ujar seorang wanita Portugis berusia 50 tahunan.

“Cara berpikir mereka sedikit ketinggalan zaman,” ujar seorang pria berusia 20 tahunan.

Sayangnya, banyak pasangan internasional justru baru menemukan fakta ini setelah mereka menikah. Ini menyebabkan hilangnya setengah dari potensi pendapatan laki-laki dan keuangan rumah tangga.

2. Istri mengontrol dompet suami

wanita_jepang_1

Laki-laki di Jepang secara tradisional diberikan tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan pengendalian anggaran dan pengeluaran umum dipegang oleh istri mereka.

Jika kondisinya adalah kedua pasangan sama-sama bekerja, mereka biasanya akan membuat akun tabungan bersama dan berdiskusi pembagian pendapatan masing-masing untuk biaya hidup bersama.

Wanita Jepang mengontrol dompet suaminya. Deposito suami, semua gajinya, akan mengalir ke rekening istri. Setelah itu, istri akan menentukan tunjangan hidup mereka berdua selama satu bulan.

Secara khusus, masyarakat Jepang menjalankan budaya dimana sesama karyawan wajib bersosialisasi dengan rekan kerja mereka. Salah satunya melalui aktivitas makan bersama dan minum (alkohol) bersama. Nah, Madam Riri mengatakan istri berperan untuk mengerem suami mereka dalam mengonsumsi alkohol ini.

3. Bahasa

ibu3

Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan dua kewarganegaraan berbeda adalah bahasa internasional. Meskipun kedua pasangan adalah bilingual dan dapat saling mengerti, konvensi linguistik tertentu masih bisa menyebabkan adanya salah pengertian.

4. Jarang menitipkan anak

ibu

Di Barat, pasangan yang sudah menikah boleh saja menitipkan anak-anak mereka ke rumah saudara atau tetangga ketika mereka ingin makan malam romantis berdua saja di restoran. Tapi di Jepang, menitipkan anak anda di rumah seorang kerabat atau di tempat penitipan anak sementara orang tuanya bersenang-senang atau berkencan malam itu sangat jarang.

5. Panggilan sayang dan ungkapan cinta

ibu2

Pola bicara pasangan merupakan refleksi dari pola berbicara sang anak. Oleh karena itu, Jepang mengharuskan aturan panggilan di dalam keluarga. Misalnya, setelah bayi pertama anda lahir, maka anda dan pasangan anda tidak lagi boleh lagi saling memanggil nama, melainkan menggantinya dengan okaa-san (ibu) dan otou-san (ayah).

Panggilan itu diwajibkan bahkan ketika mereka hanya bercakap berdua saja, tidak di depan anak-anaknya. Panggilan mama-papa juga masih ada, atau mereka menggantinya dengan panggilan suamiku dan istriku.

Setelah anda punya cucu, maka anda dan pasangan Jepang anda juga kembali mengganti panggilan menjadi obaa-san (nenek) dan ojii-san (kakek).

Seorang pacar, suami, istri di Jepang sangat jarang mengatakan ‘I Love You’ atau ‘Aku Mencintaimu’ kepada pasangannya. Ini memang terdengar sedikit dingin dan aneh. Namun, orang Jepang lebih suka mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Jadi, mereka mengungkapkan cinta dengan tindakan.

Sumber: rocketnews24.com

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya