Pembunuh Berantai Jepang Ini Tinggalkan Puisi Sebagai Petunjuk

Jumat malam waktu setempat, mayat pria berusia 71 tahun, Makoto Sadamori dan istrinya Kiyoko (72) ditemukan di sisa kebakaran rumahnya, di desa pegunungan di prefektur Yamaguchi barat. Sekitar 80 meter dari lokasi itu, polisi menemukan mayat ketiga, seorang perempuan 79 tahun, Miyako Tamamoto yang rumahnya mulai terbakar sekitar pukul 21.00, waktu yang sama ketika rumah Sadamori terbakar. Desa terpencil tersebut disebut hanya berisi 10 rumah tangga, sebuah kuil, dan sebuah pusat komunitas.


murder_mystery-puzzle

 

 

Dua mayat lagi ditemukan di rumah lain di dekatnya pada Senin kemarin (22/7). Seperti ketiga korban lainnya, Satoko Kawamura (73) dan Fumito Ishimura (80) telah dipukuli sampai mati. Kelima korban dilaporkan tewas seketika setelah diserang di kepala dengan benda tumpul. “Semua korban pasti tertidur ketika mereka diserang…meski mereka tua, ini akan sulit menyerang mereka berulang kali hanya di kepala,” ujar kriminolog Jinsuke Kageyama.

 

8_haiku_calligraphy_by_moyanII

 

Polisi belum menemukan senjata pembunuh. Namun, mereka meyakini telah menemukan petunjuk identitas si pembunuh, yakni puisi haiku yang ada di jendela rumah tersangka utama. Puisi itu bertuliskan: Menyalakan api/Asap memberikan kesenangan/Untuk teman sebangsa. Haikumerupakan puisi tradisional Jepang, yang terdiri atas 17 suku kata dalam tiga baris. Kebanyakan haiku menggunakan citra yang diambil dari alam sebagai metafora untuk emosi manusia. Menurut salah satu surat kabar Jepang, Yomiuri Shimbun, tersangka mengatakan kepada tetangga bahwa jika membunuh seseorang, dia akan kebal dari tuntutan hukum karena tengah dalam pengobatan.

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya