Mengenal Ritual Keagamaan Tradisional Yabusame

Yabusame berawal dari tahun 530-an ketika Kaisar ke-29 Kinmeu memanjatkan syukur dan memohon berkat tenka taihe (kedamaian) dan gokuko houjyou (panen berlimpah). Sang Kaisar menunggang kuda dan melepaskan anak panah ke arah 3 target yang melambangkan sanka, 3 negara di daratan korea. Cara memanah itu disebut yabasame dan kemudian diubah menjadi Yabusame. Sejak itu Yabusame menjadi ritual yang rutin dilakukan. Kaisar ke-59 Uta memerintahkan Menteri Yoshiari Minamoto mengembangkan gaya memanah Kyuuba no Reihou yang lalu diwariskan turun temurun Klan Minamoto. Bahkan Minamoto menjadi keluarga yang melestarikan ritual ini di kuil untuk menghormati dewa. Di zaman kamakura, Yabusame cukup populer dilakukan oleh para samurai, bahkan berguna untuk menambah keahlian bertempur mereka saat itu.

yabasume

Ada 3 jenis olah raga memanah di atas kuda, yaitu:

1. Yabusame

2. Kasakage–> memanah target dengan posisi yang dibuat sulit, karena zaman duhalu prajurit yang berperang memakai baju pelindung yang cukup komplit. Bagian terlemah adalah dibawah pelindung mata. Memanah bagian itu membutuhkan keahlian¬†kasakage¬†yang tinggi.

3. Inouumono adalah berburu anjing dengan panah. Dua belas samurai berkuda berlomba untuk memanah anjing yang sengaja dilepaskan. Anjing yang terbunuh dalam satu permaian kurang lebih berjumlah 150 ekor. Namun, olah raga ini sudah tidak dimainkan lagi.

Dalam yabusame saat itu, pemanah yang anak panahnya tidak kena sasaran wajib untuk melakukan harakiri,  dan peraturan ini tidak berlaku lagi di zaman Edo. Untuk mempermudah, di bagian atas target diberi karangan bunga. Jika sudah mengenai karangan bunga pun sudah bisa dibilang bagus. Yabusame yang terkenal diadakan di Kamakura Spring festival setiap april dan setiap awal musim gugur di beberapa kuil.

yabasume_2

Ritual Yabusame melibatkan sekelompok orang. Pertama, ite atau pemanah, shoyaku atau pelaksana yang tidak termasuk dalam ite seperti hamatochi / pembawa bendera, haikata / pengurus persembahan untuk dewa, yatori / pemungut panah, dan jindaiko / pemukul genderang. Kelompok ketiga adalah bugyo yaitu pemimpin upacara Yabusame yang berkostum khusus. Upacara dimulai dengan shutsujin, yaitu masuknya bugyo diikuti ite dan shoyaku ke tengah lapangan diiringi tabuhan yose no taiko. Lalu diucapkan doa yang ditulis di secarik negaibumi, yang memohon tenkai taihei, gokoku houjyou dan kokuminando (keselamatan menusia) sambil mempersembahkan ranting pohon suci tamagushi.

yabusame_horse_archery_2

Ritual berikutnya Tenchouchikyuu dimana semua peserta upacara menunggang kuda dan siap di posisi masing-masing llau melakukan gogyonojouhou, yaitu beberapa gerakankuda sambil memanjatkan doa untuk menghormati dewa. Dilanjutkan kougun dimana semuanya berbaris menuju lapangan dan subase atau persiapan posisi bugyo, shoyaku, dan ite untuk memulai acara puncak diiringi tabuhan hanotaiko. Kemudian barulah dimulai housa, yaitu para ite memacu kuda mereka melintasi lapangan sepanjang 120 ken (208 meter) utnuk memanah ketiga shikinomato (target). sesuai urutannya. Selain itu ite memanah target lain berupa gerabah yang didalmnya terdapat potongan kertas 5 warna. bila mengenai target, gerabah akan pecah dan kertas warna-warni akan berhamburan seperti hujan bunga. Upacara ini disebut kyousha. 

Ritual selanjutnya adalah gaijinnoshiki, kurang lebih artinya memeriksa wajah setan yang telah dibunuh. Pemanah dengan hasil terbaik memperlihatkan shikinomato-nya dihadapan bugyo yang memeriksanya dengan gerakan ritual menggunakan kipa dan pedang. Sebagai penutup dilakukan naoraishiki, yaitu penghormatan di gerbang kuil. Kemudian seluruh peserta kembali ke luar lapangan dan upacara berakhir. Di zaman sekarang, Yabusame diikuti oleh mereka yang memang belajar Yabusame di sekolah khusus atau murid-murid sekolah yang mengikuti klub kyuudo  (panahan jepang klasik).

 

 

 

http://nekoshrine.blogspot.com/2013/03/yabusame.html

 

  1. makou
    5 tahun yang lalu

    Pertamax wow!

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya