JK

Masyarakat Jepang dan Bisnis Seksual Anak Sekolahan

Anak perempuan sekolahan, atau JK (joshi kousei), adalah “komoditas” yang sangat berharga di Jepang. Dan dalam hal ini, “komoditas” seksualisasi. Hal ini terlihat dari banyaknya produk di Jepang yang menggunakan JK sebagai ikonnya, termasuk anime dan manga. Bahkan, budaya otaku pun kini kebanyakan diisi oleh gambar-gambar JK.

Tapi, di masyarakat Jepang, joshi kousei sering digunakan sebagai komoditas bisnis seksual. Dan muncullah “bisnis JK”.

Menurut Okunuki, pengajar di Universitas Wanita Sagami, masyarakat Jepang lah yang membantu membuatnya bertahan. Dalam kolom opini The Japan Times, Okunuki melimpahkan kekecewaannya pada peraturan dan budaya masyarakat Jepang yang mendukung bisnis seksual ini berkembang.

Pada tahun 1990an, JK yang memerlukan uang menjual celana olahraga, seragam sekolah, dan baju renang yang sudah tidak dipakai ke toko buru-sera, dimana akan ada pria yang membelinya karena merupakan fetish mereka.

Lalu datanglah enjo kousai, atau “kencan berbayar”. Perempuan sekolahan “menjual” dirinya dengan bermacam cara, seperti menemani pria-pria berkaraoke atau kegiatan lain. Salah satu contohnya adalah o-sanpo, yang secara harfiah berarti “berjalan-jalan”, dimana seorang JK akan diajak berjalan-jalan sebagai “pendamping”, lalu diakhiri di tempat karaoke atau tempat lainnya. Ada juga bisnis JK seperti satsueikai, dimana pelanggan bisa berfoto bareng anak sekolahan. Bulan Mei lalu, kepolisian Metro menemukan praktik bisnis JK yang baru di Ikebukuro. Para JK, berumur di bawah 18 tahun, duduk ngangkang menampilkan celana dalam mereka kepada pelanggan pria sambil melipat origami. Para pelanggan harus membayar 5000 yen per sesi (40 menit).

Bertahannya bisnis JK ini, menurut Okunuki, tidak hanya karena pengusaha licik yang selalu mencoba mencari celah dalam peraturan, melainkan lebih karena tekanan sosial masyarakat terhadap perempuan. Dalam masyarakat Jepang, biasanya begitu anak perempuan menginjak masa pubertas, dia mulai diajarkan “nilai jual”-nya sebagai seorang perempuan. Kata-kata seperti “kawaii” mulai dilontarkan. Pokoknya perempuan harus bisa menunjukkan dirinya cantik dan “menjual”.

Lalu korban terbesarnya adalah anak-anak SMA yang masih dalam masa pencarian jati diri. Karena “nilai jual” mereka sangat tinggi saat mereka masih muda, banyak pria yang mengincar mereka. Lalu, karena ini, para anak SMA ini pun mengikuti arus dan memanfaatkan “nilai jual” mereka selagi bisa. Pemikiran mereka seperti “selama tidak melakukan hubungan seks, kenapa tidak?”

Tentunya bisnis JK ini tidak akan hilang dengan mudah selama persepsi sosial masyarakat Jepang masih belum berubah. Jadi untuk sekarang, masyarakat Jepang sebaiknya memulai kampanye pencegahan dari keluarga supaya anak-anak perempuan mereka bisa lebih menikmati hidup dan tidak terjerumus dalam bisnis JK yang berbahaya.

Sumber: The Japan Times

  1. gakarian
    1 tahun yang lalu

    wow

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya