Lolicon dan Shotacon

Kata-kata ini mungkin tidak begitu asing lagi dibandingkan beberapa tahun yang lalu, seiring perkembangan anime dan manga di Indonesia. Kedua kata ini pun juga sama-sama sering disalah artikan sebagai salah satu bentuk perilaku pedofilia, dan identik dengan anime atau manga dengan konten dewasa. Sebenarnya apa arti sebenarnya kedua kata ini?

1

Lolicon adalah sebuah akronim daripada “Lolita complex”, dimana di Jepang sendiri hal ini digunakan untuk menjelaskan ketertarikan orang pada anak-anak. Lolicon memiliki referensi untuk anak perempuan, sedangkan istilah yang digunakan untuk anak laki-laki menggunakan kata “shotacon”.

Misalnya, seseorang yang menyukai karakter Amamiya Manami dari Manabi Straight atau karakter tipikal ‘pirang-kepang dua (twintail)-tsundere’ seperti Eve (Black Cat) atau Fate Testarossa (Mahou Shoujo Lyrical Nanoha) dapat disebut sebagai lolicon namun tidak dapat di klaim sebagai seorang pedofil.

2

Lolicon di Industri Hiburan Jepang

Lolicon adalah satu bagian dari otaku. Karena sifat otaku lolicon yang obsesif cenderung konsumtif maka developer industri hiburan di Jepang memanfaatkan hal ini dengan membuatnya menjadi lebih intensif, lebih adiktif. Hingga saat ini lolita dikenal sebagai salah satu moe factor dari industri hiburan dan animasi Jepang. Soal keterlibatan dengan penampilan sensual & aktivitas seksual, Itu bukanlah sebuah keharusan. Itu hanya sekedar strategi memenuhi tuntutan konsumen tertentu.

3

Pendistorsian ciri fisik dari lolicon style identik dengan dada yang rata (meski tidak selalu), postur badan yang kecil, dan penampilan yang seperti anak-anak. Terkadang karakter yang lolicon pun juga bisa disebut “moe”. sebenarnya adalah hal baru dan sebuah revolusi dalam dunia industri manga & anime. Semua ini demi memenuhi tuntutan dari para konsumen yg kebanyakan adalah otaku. Distorsi tubuh digunakan untuk menambahkan sisi sensualitas pada karakter lolicon. Sebuah strategi untuk memancing sebuah persepsi meski sebenarnya masih banyak cara lainnya, (contohnya coba bandingkan ciri fisik lolicon jaman sekarang dengan yang dulu ambil contoh sajah,anime “minky momo”).

4

jadi Seorang Yang Suka Dengan Anime Loli bukan Berarti Menjadi Seorang Pedofil……

Di Indonesia, fenomena lolicon sendiri mulai marak sejak awal 2005, dengan masuknya beberapa publikasi yang menampilkan banyak unsur fanservice. Paling utama adalah manga Negima, yang memiliki setting seorang guru berusia 9 tahun yang dikelilingi siswi SMP di sekolahnya. Selain itu, anime Kodomo no Jikan adalah salah satu anime yang cukup dikenal di Indonesia karena unsur loliconnya.

5

Pandangan hukum mengenai fenomena ini masih kurang jelas. Menurut UU di Jepang, lolicon tidak terkena undang-undang ini, sebab ia tidak termasuk karya nyata. Di Inggris, parlemen telah mengusulkan amandemen undang-undang , yang nantinya juga dapat menjerat orang yang memiliki, menyimpan, dan mengedarkan materi dewasa untuk anak dalam bentuk kartun.

Walau demikian, telah timbul kekhawatiran sejumlah orang mengenai fenomena ini. Karena penggunaannya sering menimbulkan kesalahpahaman (diartikan juga sebagai pedofilia), maka banyak pihak yang menuntut agar lolicon dihapuskan di Jepang, bahkan Amerika Serikat dan PBB pun meminta agar Jepang melarang hal-hal berbau lolicon (Kyodo News).

sumber : BBC | Wikipedia

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya