Kini, Yakuza Dijauhi Anak Muda di Jepang

Zaman memang jauh sudah berubah di Jepang. Kalau dulu menjadi Yakuza bisa berupa kebanggaan, bahkan nyata-nyata pejabat tinggi pemerintahan Jepang bekerjasama erat dengan Yakuza sampai dengan tahun 1960-an. Kini semua sudah berubah, termasuk generasi muda tak mau lagi menjadi yakuza.

yakuza

Demikian ungkap pengarang buku “Yakuza dan Genpatsu” terkenal di Jepang, Tomohiko Suzuki,¬†di Ikebukuro, Tokyo.

Mengapa bisa demikian? “Jadi¬†Yakuza¬†saat ini tak dapat duit, hidup susah, susah sekali cari uang karena ditekan habis oleh UU Anti Yakuza. Perusahaan boneka pun banyak yang tutup bangkrut akhir-akhir ini karena tak bisa bergerak lagi terkungkung oleh UU tersebut,” papar Suzuki.

Penghasilan Yakuza kini menurutnya banyak dari perjudian. Di samping juga penjualan narkoba, kehidupan malam, dan sebagainya.

Anak muda sekarang memiliki karakter berbeda. Belum lagi perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga dunia IT, internet, banyak dimasuki Yakuza kalangan muda untuk mencari uang.

“Anak muda¬†Yakuza¬†pikirannya hanya uang saja, tak ada perasaan kemanusiaan sama sekali. Tidak seperti generasi lama dulu. Tentu tujuannya sama untuk membesarkan organisasi yakuza. Namun karakter kerjanya sudah lain dibandingkan generasi tua yang lalu-lalu.”

Generasi muda ini semakin berat untuk putar otak mencari uang karena hambatan UU Anti¬†Yakuza¬†yang sangat ketat, sehingga fokus hanya kepada uang saja di kepalanya, yang saat ini sangat sulit dicari oleh yakuza. Perlu ekstra kerja keras bagi¬†Yakuza¬†mencari duit saat ini. Itulah sebabnya salah satu jalan dengan “kabur” ke luar¬†Jepang¬†yang relatif masih mudah mencari uang, termasuk ke Indonesia, tekannya lagi.

Daftar hitam yang dibuat polisi dan disebarkan ke pasar modal di Jepang, dengan harapan anggota Yakuza tidak bisa lagi bertransaksi dan spekulasi jual beli saham, menurutnya tidak ada gunanya.

“Lha, kalau yang transaksi pakai nama isterinya, anaknya, dan teman lainnya, kan tidak ada di daftar¬†Yakuza¬†tersebut, pasti lolos bisa transaksi bukan?” paparnya lagi. Dengan demikian pemberian daftar daftar hitam polisi ke Asosiasi Pedagang Pasar Modal¬†Jepangagar dijauhi dari¬†Yakuza¬†hanya penampilan (performance) saja dari pihak polisi kepada pers. Kenyataan tetap saja bisa transaksi dan menguasai pasar modal di¬†Jepang¬†dengan menggunakan nama orang lain.

Daftar jumlah anggota Yakuza pun yang diumumkan semakin berkurang saat ini, menurutnya, hanya untuk nama anggota Yakuza tertentu yang didaftarkan oleh kelompok yakuza.

“Kalau kelompok¬†Yakuza¬†tidak mendaftarkan (melaporkan) nama itu kepada polisi, tentu saja polisi menjadi tak memiliki daftar tersebut. Sementara jumlah berkurang karena meninggal karena usia, karena perang antar geng dan sebagainya. Sedangkan yang baru-baru mungkin tak didaftarkan, sehingga secara keseluruhan jumlah anggota¬†Yakuza berkurang seperti diumumkan polisi.”

Beberapa pengamat¬†Yakuza¬†senior seperti Mizoguchi dan Miyazaki tampaknya juga melihat hal tersebut. Semain¬†Yakuza¬†ditekan, semakin dia bersembunyi ke “dalam tanah” dan hal ini justru tidak benar dan tidak baik, “Sebaiknya¬†Yakuza¬†dikontrol dikendalikan dengan baik, bukannya dengan menekan seperti sekarang. Hal ini akan jauh lebih berbahaya dan jadi semakin sulit dideteksi, karena kita semakin tidak tahu musuh mau ngapain, atau tidak tahu apa yang akan mereka lakukan,” papar kedua pengamat senior itu.

Hukum Jepang pun tidak memungkinkan dilakukan penyamaran, masuk berpura-pura jadi anggota yakuza. Lain halnya dengan di Amerika Serikat yang sah secara hukum melakukan penyamaran masuk ke dalam organisasi kejahatan. Sedangkan UU penyadapan baru boleh dilakukan akhir-alhir ini. Di masa lalu dilarang oleh hukum Jepang.

Sumber: yakuza.in

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya