Kekurangan dan Kelebihan Kebiasaan Baca-Tulis Orang Jepang

Diawali dengan pembacaan buku cerita bergambar oleh guru dan orang tuanya, berlanjut ke tahap SD. Sejak SD, kebiasaan itu sudah berkurang, karena si anak sudah bisa membaca sendiri. Kebiasaan baca itu berlanjut terus sampai tahap SMA. Ada waktu wajib baca selama sekitar 30 menit sebelum pelajaran di mulai pada setiap harinya. Bagaimana akhirnya kebiasaan ini terbawa atau tidak sampai ke masa dewasa si anak, itu bukan hal yang ditekankan. Yang terpenting, ada suatu kesadaran akan keterbutuhan mencari informasi lewat tulisan. Kebiasaan Baca tersebut ini juga berdampak positif pada Kemampuan Tulis. Mereka rajin sekali untuk membuat record, mem-file, menulis report, untuk sekedar meninggalkan jejak pada penerusnya, pada orang yang akan mengantikan posisinya dan meneruskan tanggung jawabnya. Hampir semua orang Jepang menulis kegiatan dan rencana harian, mingguan, bulanan secara rutin. Mengapa mereka bisa terus melakukannya sejak kecil sampai masa bekerjanya berakhir, karena lingkungan, semua orang melakukannya. Jadi lupa atau mengganti waktu janjian dengan tiba-tiba, tidak bisa dijadikan suatu alasan.


tumblr_livlnxxh1W1qamhyd

 

Tetapi ada satu hal yang membuat mereka terkesan “kurang” akibat kebiasaan yang baik ini. Mereka menjadi tidak pandai mengungkapkan perasaan secara spontanitas. Karena itu tidak jarang ungkapan spontanitas ini dituangkan dalam sebuah surat. Pembacaan surat ini sudah terbiasa mereka lakukan sejak SD. Misalnya, jika ada open house yang diselengarakan oleh pihak sekolah, para orang tua ini akan hadir dan masuk di kelas solah-olah ikut dalam suatu pelajaran kelas si anak. Pada saat itu hampir bisa dipastikan ada acara pembacaan surat berupa hasil mengarang pelajaran bahasa. Para orang tua yang hadir akan mendapat surat yang telah dibacakan si anak dan kemudian orang tuanya akan menyimpannya sebagi “jimat”. Tidak sedikit para orang tua itu menitikan air matanya waktu mendengarkan pembacaan surat oleh anaknya. Jadi banyak juga pemandangan seorang bapak-bapak yang gagah menangis di kelas anaknya. Beberapa orang mengaku, surat itu menjadi “jimat” pemberi semangat terbesar, saat mengalami masalah hidup.

 

japanese

 

Demikian juga pada acara pernikahan. Biasanya pengantin perempuan akan membaca surat untuk orang tuanya. dan si ayah ini langsung berderai-derai air matanya. Perasaan mereka tertuang pada surat yang dibacakan pada saat prosesi pernikahan. Surat yang berisi rasa terima kasih pada itu dibaca dihadapan orang tuanya. Jadi pada saat prosesi sungkeman (seperti dalam adat pernikahan Jawa), digantikan dengan pembacaan surat dari si anak ke orang tuanya. 今まで育ててくれて、ありがとう!!  Ima made sodatete kurete, arigato!! …“Terima kasih Ayah, Ibu,…kalian berdua sudah merawatku, mendidikku, dan telah menjadikan aku orang”. Begitu kira-kira isi suratnya. Surat untuk orang yang bersangkutan dibacakan oleh si penulisnya dihadapan orang yang dituju dalam surat itu. Dan setelah itu diserahkan pada orang tua pengantin disertai pemberian rangkaian bunga sebagai tanda rasa terima kasih dan sekaligus pamitan karena dirinya sudah harus masuk ke keluarga suaminya. Karena kita sudah memiliki kemampuan bicara yang baik, alangkah baiknya jika kita bisa menggabungkan antara kempuan Baca-Tulis dan Kemampuan Bicara, untuk mengungkan perasaan yang berdasar pada sebuah referensi yang kita baca, tidak hanya asal bicara tanpa rujukan. Dengan demikian bisa dipastikan kita akan bisa menuju manusia yang lebih layak untuk dihargai.

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya