Hutan Bunuh Diri di Jepang


Namanya Hutan Aokigahara. Hutan yang luasnya 35 kilometer persegi dan terletak di barat daya kaki Gunung Fuji ini dijuluki “Jukai” atau lautan pohon karena lebatnya pohon yang tumbuh di hutan ini bahkan menyebabkan sinar matahari dan udara sulit masuk sehingga tidak ada binatang yang hidup di dalamnya.

Setiap tahun aparat setempat mengevakuasi tak kurang dari 100 jenazah yang tergantung di pepohonan di lokasi bunuh diri favorit di Negeri Matahari Terbit itu. Bahkan banyak juga yang tidak ditemukan sampai bertahun-tahun kemudian. Begitu terkenalnya tempat itu sebagai tempat bunuh diri, sampai-sampai pihak berwenang memasang papan peringatan di ujung jalur umum. Papan itu berisi pesan dari Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri, yang berbunyi: “Hidup Anda adalah hadiah tak ternilai dari orangtua. Pikirkan lagi orangtua, saudara-saudara, dan anak-anak Anda. Jangan simpan (masalahmu) sendiri. Bicarakanlah masalah-masalahmu.”

Banyak tenda ditemukan di hutan itu yang digunakan oleh seseorang bermalam di sana sebelum membunuh dirinya di hutan itu, itu merupakan pertanda keraguan. Di salah satu tenda, tidak ditemukan mayat, namun di dekat situ ada boneka dipaku di pohon yang merupakan petunjuk sisa-sia episode keputusasaan. Boneka itu dipaku dengan kepala di bawah dan wajahnya disobek.  Temuan lain yang membuat miris adalah catatan “petunjuk bunuh diri”, dan sejumlah tali gantungan.

Popularitas hutan ini sebagai tempat untuk melakukan bunuh diri berkaitan dengan Novel Nami No To (“Menara Gelombang”) yang ditulis oleh Seichō Matsumoto pada tahun 1960. Novel ini bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih yang berakhir dengan bunuh diri bersama di hutan Aokigahara.


Sumber: www.dailymail.com

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya