Di Jepang, Memiliki Mobil adalah Ciri Khas Orang Kampung

Itu pun mobil akan jarang digunakan. Dia juga harus rela melihat mobilnya berdebu, karena berbulan-bulan tidak dipakai dan nyaris tidak ada tempat pencucian. Kalaupun dipakai sesekali hanya untuk keluar kota. Sekali lagi ini menegaskan, bahwa hanya orang-orang yang hidup di kampung yang perlu mobil. Jika berbicara masalah tinggal di kota atau kampung dalam konteks Jepang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kualitas hidup, pendidikan atau kemakmuran. Karena seluruh rakyat Jepang, baik yang tinggal di Sapporo di ujung Utara, atau Tokyo, atau di pulau Kyusu yang berada di Selatan, selalu menyantap makanan yang terbaik. Kualitas makanan premium selalu disantap orang Jepang, dan sisanya, yang tidak terpilih, kemudian diekspor. Pendidikan mempunyai kualitas yang sama. Tidak ada istilah yang bersekolah di kota besar, mendapat fasilitas istimewa, atau guru-guru terbaik, atau lingkungan yang bagus. Sekolah-sekolah di Jepang dari mulai kelompok bermain hingga sekolah lanjutan atas mempunyai standar yang sama, dimana pun tempatnya.

hiroshima-parking-fee-en

 

Yang berbeda hanya bayaran sekolah, dan itu hanya diketahui oleh kepala sekolah dan orangtua murid. Kedua belah pihak inilah yang menentukan berapa iuran bulanan. Biasanya yang menjadi pertimbangan adalah penghasilan orang tua dan jenis pekerjaan serta jumlah tanggungan dalam rumah tangga. Jumlah iuran itu berkisar antara lima ribu yen hingga 100 ribu yen, atau kalau dirupiahkan, mulai dari 500 ribu hingga 10 juta rupiah perbulan. Sebagai gambaran, gaji sarjana yang baru lulus upah minimumnya adalah sekitar 250 ribu yen. Jadi jika mulai bekerja dan langsung mempunyai anak, rasanya tidak terlalu memberatkan bila harus membayar iuran sekolah anak, lima ribu yen per bulan. Intinya, biaya pendidikan bukan hal yang memberatkan di negara yang terus menerus meluncurkan insentif, tunjangan dan program bantuan guna mendorong agar kaum muda berminat memiliki keturunan.

 

village1

 

Kembali ke soal kendaraan. Jalan kaki dan sepeda adalah kendaraan orang kota. Dari apatonya, penduduk kota yang gemar mengenakan pakaian branded itu mengayunkan kaki atau bersepeda ke stasiun kereta api bawah tanah. Sepeda-sepeda di parkir di lahan yang dibawahnya adalah stasiun. Semua hunian di Jepang mempunyai standar yang sama, yaitu anti gempa dan dapat menjangkau stasiun terdekat dengan jalan kaki atau sepeda. Jumlah penduduk Tokyo Raya (Greater Tokyo) termasuk kawasan penyangganya seperti Chiba dan Saitama, sekitar 30 juta orang atau tergolong paling padat di dunia. Namun penduduk Tokyo tidak pernah merasakan sesak dan bising seperti di halnya di Jakarta. Kenapa? Karena mereka tinggal tersebar, dan melakukan perjalanan pergi dan pulang dari tempat bekerja dengan kereta api. Jaringan kereta api di Tokyo adalah yang paling intensif di seluruh dunia. Kereta api menjangkau setiap sudut kota.

 

3221924229_8d20dd1eb7

 

Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta nyaris tidak pernah meleset, bahkan dalam hitungan detik sekali pun. Pengguna kereta api tidak mengobrol, mereka membaca buku. Berbicara menggunakan telepon seluler di hadapan orang lain, adalah perbuatan yang tergolong sangat tidak sopan. Para pekerja tidak mempunyai masalah jarak antara tempat tinggal dan kantor. Mereka bisa memilih untuk tinggal dimana saja, karena biaya transportasi diganti kantor. Pemerintah menjalankan strategi sedemikian rupa sehingga semua diarahkan menggunakan kereta api dan bukan bus kota apalagi kendaraan pribadi. Perlu dicatat bahwa strategi itu didesain secara detail oleh universitas setempat dan pemerintah hanya tinggal mengimplementasikan. Sebuah cara yang sederhana namun perlu manusia berkualitas untuk mewujudkannya.

 

jrice_G_20100819074842

 

Orang-orang yang tinggal di kampung terutama petani, tentu saja perlu kendaraan roda empat. Pertama, karena tidak semua sudut desa dilalui jaringan kereta api. Penduduknya terlalu sedikit untuk dilayani angkutan umum massal. Kedua, karena layanan bus dalam kota juga sama jarangnya. Karena tidak massal maka ongkosnya pun lebih mahal dibanding kota. Tarif paling murah untuk naik angkutan umum di kota-kota kecil dan pedesaan, adalah 420 yen. Sementara tarif paling rendah di Tokyo adalah 100 yen. Ketiga, karena mereka petani maka perlu membawa logistik untuk keperluan bertanam. Mereka menggunakan kendaraan bak terbuka. Untuk kepentingan pribadi yang bersifat sosial, biasanya mereka menggunakan mobil yang lebih bersih. Maka, jika ada orang Jepang mengatakan bahwa dirinya memiliki dua mobil, sudah bisa dipastikan dia adalah petani.

 

Diesel-SUV

 

Kita memang tidak mengalami invasi Jepang menjelang Perang Dunia Kedua, mau tidak mau harus mengakui kehebatan kolonialisme era modern ini. Jepang berhasil menginvasi Indonesia, dengan menciptakan kondisi yang bertolak belakang dengan negaranya. Industri otomotif Jepang secara brilian melancarkan strategi tepat terhadap pangsa pasar yang luar biasa besar, namun memiliki keterbatasan intelektual. Lalu bagaimana ya  kira-kira wajah keheranan seorang petani lobak di Gifu, bila tahu kalau kendaraan SUV-nya itu jika di Indonesia diposisikan sebagai simbol status eksekutif sukses yang penuh gaya?

 

  1. Pasha rico erdiyantho
    5 tahun yang lalu

    Gua baru tahu ada hal seperti ini di jepang

    Reply

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya