Di Jepang, Mangaka Dihormati dan Diperlakukan Seperti Selebriti

Menurut Ockto yang bertugas sebagai penulis cerita ‘5 Menit Sebelum Tayang’, seorang mangaka diperlakukan layaknya orang terhormat. Di sana, majalah maupun buku komik mudah ditemui di minimarket dan dengan harga terjangkau. Serta sudah ada pembagian segmentasi pembaca mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, pria dan wanita. Para mangaka, kata Ockto, juga seperti selebriti. Jika manganya terkenal, ia bisa menjadi bintang iklan sebuah produk. “Seperti karakter Luffy di komik ‘One Piece’, saya hampir bisa menemuinya di semua tempat di Jepang, bahkan ketika mengunjungi kuil, ia jadi figur jualan,” kata Ockto.


mangaka

Lantas, wajar saja jika Jepang disebut sebagai surganya manga. Jika berbicara mengenai profesinya, di Jepang seorang mangaka bisa mempunyai banyak asisten. Mereka juga bisa punya editor yang siap membantu mencarikan referensi agar mendapatkan ide cerita. “Ini yang berbeda sekali dengan Indonesia,”. Yang paling diingat Ockto adalah ketika juri utama Manga Award mengatakan hal unik terhadap karyanya sehingga bisa menang. Di dalamnya, memiliki unsur cerita kehidupan sehari-hari. Hal ini yang kedekatannya kental dengan pembaca.

 

manga-artist-2

Selain itu, ketika mereka mengunjungi Kyoto International Manga Museum, sang mangaka yakni Matto juga masih mengingat perkataan peneliti manga di museum. Salah satunya, sebagian besar penghasilan penerbit dari Shuesha dan Kodansha berasal dari manga dan produk turunannya. Ockto juga sempat ditanyakan oleh CEO Studio Anime Pierrot, apakah dirinya mengenal Naoki Urasawa. Pasalnya dari teknik gambar maupun cara bertutur mirip dengan gaya mangaka pembuat ’20th Century Boys’ tersebut.

 

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya