In this April 11, 2010 photo, Chinese tourists listen to a tour guide upon arriving at Tokyo's posh Ginza district. For years, Japanese auto and electronics companies have been expanding in China as its economy boomed to offset slow growth at home. But now, Japan's languishing economy is getting a lift from hundreds of thousands of Chinese tourists who are eager to flaunt their newfound wealth by purchasing  brand name goods, from Canon digital cameras to Shiseido cosmetics. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Banjir Turis ke Jepang Membawa Masalah

Dulu, Jepang masih dianggap negara “mahal” untuk berwisata. Tapi, sejak yen melemah dan ekonomi Jepang stagnan, Jepang tiba-tiba menjadi negara relatif murah untuk berwisata. Datangnya turis asing ke Jepang, terutama dari daratan Tiongkok dan Asia Tenggara, tentu menjadi sebuah peluang ekonomi sendiri bagi penduduk Jepang. Tapi, datangnya turis-turis yang membludak ini membawa banyak masalah bagi Jepang.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe untuk menggenjot ekonomi Jepang yang lesu selama 20 tahun. Dengan slogan Cool Japan dan omotenashi, Jepang berusaha memamerkan diri sebagai sebuah tempat yang bersahabat, baik terhadap turis maupun kantong mereka. Banjir turis ini juga digunakan sebagai kesempatan bagi industri kreatif untuk mengembangkan diri dan menjual berbagai produk berbau Jepang seperti anime, manga, dan lainnya. Abe juga memotong pajak penjualan bagi turis untuk meningkatkan konsumsi.

Pada tahun 2014, jumlah turis asing melonjak hingga angka 13.4 juta orang, jumlah terbanyak sepanjang sejarah. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat drastis mendekati tahun 2020, saat Jepang membuka Olimpiade 2020.

Turis-turis Tiongkok merupakan mayoritas pengunjung Jepang. Mereka membawa uang yang banyak, berkat melemahnya nilai tukar yen, dan sering memenuhi tempat-tempat wisata Jepang terutama tempat perbelanjaan. Ginza dan Shinjuku adalah tujuan favorit mereka, di mana mereka bisa membeli barang-barang fashion murah. Tujuan utama mereka biasanya dudukan toilet Jepang yang canggih. Menurut analisis The Economist, rata-rata 1 turis Tiongkok bisa menghabiskan sekitar 130,000 yen (hampir Rp 14 juta) dalam 1 kali kunjungan!

 

Tapi, Jepang masih harus membenahi banyak hal sebelum menerima turis lebih banyak.

Masalah utama adalah culture shock. Kebanyakan turis, terutama dari Tiongkok, cenderung membawa kebiasaan buruk mereka ke Jepang, seperti membuang sampah sembarangan, berisik di kereta, dan tidak mengindahkan etika saat berendam di onsen. Tentunya, hal ini membuat penduduk asli merasa terganggu.

Sangat sulit mencari hotel yang bagus di Jepang dengan harga murah. Kalaupun ada, biasanya hanya ryokan kecil yang harganya 4,500 yen per malam. Hotel kapsul seharga 1,500 yen per malam mulai menjamur, bahkan diubah menjadi hostel buat backpacker. Mahalnya dan sedikitnya tanah di Jepang adalah penyebabnya.

Selain akomodasi, bahasa menjadi masalah sendiri. Orang Jepang hanya bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit dan hampir tidak bisa berbahasa Korea atau Mandarin, membuat komunikasi antara penjual dan pembeli terhambat. Baru beberapa tempat yang menyediakan papan penunjuk arah dalam dua bahasa (Jepang dan Inggris), membuat turis asing sering kebingungan apalagi saat mau naik kereta.

Lalu, Jepang kekurangan ATM yang bisa menerima kartu kredit asing. Kebanyakan ATM di Jepang hanya menerima kartu debit/kredit asli Jepang, sehingga menyulitkan turis yang memerlukan uang secara cepat. Hanya di beberapa tempat, seperti minimarket 7-11, ATM yang bisa menerima kartu asing ada.

Pemerintah Jepang sedang berusaha membenahi masalah ini. Diharapkan, semuanya akan terselesaikan sebelum tahun 2020.

Sumber: Japan Today

Sumber gambar: Xpatnation

Tinggalkan komentar jculers

Alamat email jculers tidak pernah dipublikasikan, fields yang bertanda * harus diisi.

Artikel lainnya